Rabu, 07 September 2011

Pengen Resign...

Nggak kerasa sudah hampir lima tahun saya bekerja. Bekerja di sebuah kantor pemerintahan dengan golongan paling rendah. Tercatat tiga orang dengan golongan paling rendah di kantor. Saya termasuk di dalamnya... he3... . Gimana nggak paling rendah lha wong nggak nglanjutin kuliah. Lha yang lulus D3 kemaren...??? itu kuliah nggak resmi alias ilegal alias nggak ijin atasan. Bengal kan...??? sengaja biar pangkat golongannya nggak naik-naik. Toh saya tidak berambisi untuk menjadi pegawai dengan jabatan tertentu. Lebih tepatnya saya menjalani pekerjaan ini karena punya hutang dengan pemerintah yang telah sudi menyekolahkan saya selama satu tahun di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Dan hutang saya telah lunas lho... ijazah yang ditahan selama ikatan dinas sudah saya pegang... horeee.... (*padahal cuma d1... he3...)


Saya merasa kok tidak sreg kerja di kantor. Dengan jam kerja yang panjang saya merasa diperbudak waktu. Nggak bersyukur...??? saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa membantu keluarga dan bisa survive hidup di perantauan. Tapi jujur saya tidak enjoy dengan pekerjaan ini. Saya sangat menginginkan pekerjaan yang waktunya bisa fleksibel. Saya merasa sehari-hari hanya disibukkan dengan kepentingan dunia. Dari jam 07.30 sampai dengan jam 17.00. Psssttt... saya juga tipe orang yang nggak suka dengan prosedur yang ribet.


Pengen banget resign. Tapi saya nggak bisa sembrono dengan tiba-tiba mengundurkan diri. Saya harus mempersiapkan pekerjaan pengganti sehingga keluarga tidak terlalu kecewa dengan pengunduran diri saya. Saya memutuskan les bahasa. Dengan harapan pada nantinya saya bisa mengajar bahasa. Kenapa mengajar...??? karena mengajar lebih fleksibel waktunya. Entah kapan saya bisa resign. Sekarang saya harus mempersiapkan segalanya dan yang terpenting komunikasi dengan Ibu selaku single parent. Meyakinkan insya allah saya bisa mendapatkan rizki lain nggak hanya dari pekerjaan saya selama ini. Amin.... semoga keinginan saya bisa tercapai.


Mengejar dosen...

Mengenang memori dikit ahhh masa-masa penyusunan TA... salah satunya bagaimana susahnya mendapatkan tanda tangan dosen penguji... cekidot yuukk...


Tanggal 17 Februari lalu merupakan hari yang sangat melelahkan. Memangnya ada apa...? Gimana nggak capek lha wong keliling Jakarta. Jakarta Barat - Jakarta Selatan - Jakarta Timur - Jakarta Barat. Fffiuuhhh... sendirian... mana di tengah-tengah teriknya matahari lagi... di Jakarta pula. Cuma bisa ngurut dada plus terus menyuntikkan kata sabar... sabar ndru...


Ceritanya saya harus mengejar dosen (Bukan mengejar mas-mas... hi3...) untuk menandatangani revisi Tugas Akhir saya. Tinggal dosen tersebut saja yang belum menandatangani. Beliau dosen penguji 2 ketika sidang waktu itu. Masih sangat muda (jangan2 tua-an saya lagi...) sehingga saya memanggilnya dengan mbak ketika sidang (nglunjak banget ya... masa' bu dosen dipanggil mbak...). Sehari sebelumnya saya sudah sms ke beliau bahwa saya mau bertemu untuk revisi TA. Beliau menyanggupi untuk janjian jam 12 di daerah Warung Jati - Jakarta Selatan. Saya segera mengiyakan. Dan bela-belain nggak kerja hari itu demi mengejar tanda tangan bu dosen ini.


Dengan semangat 45 berangkatlah saya ke Warung Jati dengan naik busway. Busway melaju lancar tanpa ada hambatan. Sekitar 2 jam perjalanan (gitu kok lancar...). Setelah nyampe kampus dengan pede tanya keberadaan bu dosen ke pihak administrasi kampus. " Bu A jadwalnya sore mbak... ", Kata pihak Administrasi. "Tapi saya udah janjian kok mbak...", Jawabku. Saya putuskan untuk sms bu dosen. Tahukah saudara-saudara apa jawaban beliau.... "Saya lagi di Kampus yang di Dewi Sartika...". Lemas kaki saya demi membaca sms beliau. ffffiuuhhh... FYI, saya membawa beban berat (1 tas ransel yang berisi laptop ukuran 14 inch dan beberapa buku plus tas jinjing berisi TA lama dan TA revisi). Dalam hati pengen teriak.... aduhhh kenapa nggak ngasih tau saya... coba kalau tadi saya nggak sms beliau... bisa sampe lumutan nunggu. Alhamdulillah kemaren saya masih bisa mengendalikan emosi. Dengan berlapang dada sayapun sms beliau. "Ya sudah bu saya ke Dewi Sartika...".


Show must go on... lanjut... nanggung... tinggal selangkah lagi... saya memutuskan untuk tetap menemui beliau. Sampai ke ujung duniapun akan saya kejar bu... . Padahal saya nggak tau dari Warung Jati ke Dewi Sartika harus naik bus apa. Untungnya (udah apes masih bilang untung...) saya pernah kos di daerah mampang. Jadi agak taulah daerah Jakarta Selatan. Ingatan saya tertumbuk pada Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus - Senen yang melewati depan kampus. Pikirku saya bisa naik Kopaja ini lalu turun di Indonesia Power trus naik bus yang ke arah Cawang turun di Cawang atas dilanjutkan lagi dengan naik mikrolet ke arah Dewi Sartika. Sipp.. . Yahh... manusia hanya bisa berencana. Sudah sekitar 15 menitan nunggu kok bus yang ke arah Cawang nggak ada yang kelihatan batang hidungnya... biasanya kan banyak. Yang ke arah Pancoran aja yang lewat bisa dihitung dengan jari. Tanya Ibu-ibu di halte katanya ada tapi jarang. Tungguin aja deh... udah terlanjur... (setia banget ya...). Tepok jidat... lupa... kan bus arah Cawang sudah tidak beroperasi lagi... diganti busway. Akhirnya naik busway. Baru kali ini naik busway jurusan Cawang. Turunlah saya di Halte Cawang BNN. Tanya lagi ke bapak-bapak di halte busway kalau mau ke dewi Sartika naik apa. Dan saya diarahkan untuk naik mikrolet 19. "Cuman bayar 2000 mbak...". Oke deh bapak... makasih... . Fffiuuhhh... nyampe juga saya di Dewi Sartika. Cuman 10 menitan saya disana. Cuman minta tanda tangan... basa-basi sebentar... pamitan. Nggak ada acara marah-marah ke bu dosen. nanti malah dipersulit lagi revisi TA saya. Dan... Makasih bu... . Sejengkel apapun ya tetap kata itu yang keluar dari mulut saya.


Perjalanan pulang ditempuh dengan naik mikrolet ke arah PGC (kenapa saya g langsung ke halte busway UKI ya... hadehhh...). Naik busway yang ke arah Juanda trus transit lagi dilanjutkan yang ke arah Kalideres. Alhamdulillah... nyampe Cengkareng jam 5. Pundak dan kaki udah kayak mau patah. lha wong bawa beban berat plus jalan jauh lagi. Alhamdulillah... saya masih diberi kekuatan untuk melakukan ini semua.

Rabu, 08 Juni 2011

Kumpul Guru Jadi Guru (Inspiring Teacher)


alhamdulillah... pengalaman mengajarku yang cuma sebentar (nggak nyampe setahun... nekad pula) bisa nyelip di buku inspiring teacher... semoga buku ini bisa mengispirasi para guru... buruan pesan sekarang.... hanya di www.leutikaprio.com

Judul : INSPIRING TEACHER; Kumpul Guru Jadi Guru

Penulis: Sismanto, dkk.

ISBN : 978-602-8597-88-3

Terbit : Juni 2011

Tebal : 237 halaman

Harga : Rp. 47.700,00

Deskripsi:

Bila ada anggapan orang guru selalu dikaitkan dengan istilah “Oemar bakrie”, bersepeda ontel, masa depan suram, dan berpendapatan kecil, itu dulu. Sekarang, guru Indonesia saat ini adalah orang-orang yang bekerja secara profesional yang pengabdiannya sangat diharapkan, memiliki dedikasi yang tinggi, serta komitmen yang kuat didukung oleh kejujuran, membawa sekolah pada jalur persaingan di antara sekolah-sekolah. Guru-guru yang ada di sekolah tersebut merupakan guru yang siap berjuang demi pendidikan bukan hanya semata-mata untuk mencari gaji saja, melainkan memiliki jiwa pengabdian.

Di beberapa tempat sebagaimana dituliskan oleh beberapa penulis (kontributor), ada pula guru yang nampaknya masih belum memiliki kebebasan berpendapat, berada jauh di pedalaman, dan yang lebih parah lagi adalah masih banyak guru Indonesia yang belum memiliki kebebasan finansial dalam menjalan tugas dan profesinya sebagai guru dan pendidik.

Untuk itu, saya sampaikan selamat kepada para guru pembelajar; Aina Al-Azmi, D. Dudu Abdul Rahman, Dwi Dessy Pratiwi, Eka Dirnawati, Endah Wulandari, Erni Nuraeni, Ernofalina, Erny Ratnawati, Fiyan Arjun, Hesti Daisy, Hilal Ahmad, Imam Syafii, Inge Inggrid, Inggar Saputra, Katrin Pepita, Muhammad Irfan Abdul Aziz, Lasmi Widiatutik, Mintarti, Nanok Triyono, Niken Larasati, Nur Fatimah Sari, Nurik Khikmawati, Oci Yonita Marhari, Prilliani Rukmiyanti, Puri Tosana, Rosidah, Rif’an al Hasani, Sabil Ananda, Sri Indrianti, Subhan, Syaira Az-zirnikh, Syauqie Hikaritokusaikizoku, Tiya Radam, Tsuraya Widuri, Wahyuti, dan Yurmawita Adismal.

Endors:

Setiap manusia adalah guru, guru bagi dirinya sendiri, guru bagi orang lain, guru di sekolah, guru di tempat kursus dan guru di mana pun. Karena mengajar adalah kebutuhan manusia untuk berbagi. Membaca kisah-kisah inspiratif ini semakin memberikan saya semangat untuk terus berbagi ilmu. Kisah penuh makna, diiringi canda, tawa, semangat dan kekuatan besar yang membangkitkan gairah mengajar. Jadilah guru dan berbagi ilmu.(Achi TM, Founder Rumah Pena, Penulis, Anak seorang guru)

Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!Telah terbit di LeutikaPrio!!!

Selasa, 10 Mei 2011

Serba-serbi Ujian Nasional



Ini buku antologi pertamaku... alhamdulillah...

Judul : Serba Serbi Ujian Nasional
Penulis : Tri Lego Indah, dkk
Tebal : xxiiii + 296 hlmn
Harga : Rp 60.100,-
Sinopsis:

Buku ini memotret beragam realitas yang terjadi tentang ujian nasional. Beragam kisah disuguhkan dengan penuh warna oleh ke-45 penulisnya. Kisah yang membuat kita kembali memutar kenangan lama masa-masa ujian nasional. Tak hanya bernostalgia, buku ini menjadi “pembuka” rasa yang selama ini terpendam dengan berbagai serba-serbi yang mewarnai hajat 1 tahun sekali dunia pendidikan berwujud ujian nasional.

“Buku ini hadir di tengah jenuh dan jengahnya masyarakat, utamanya siswa menghadapi monster tahunan yang bernama UN. Dengan semangat “lebih baik menyalakan lilin ketimbang memaki kegelapan”, buku ini tampil menjadi lentera di tengah keburaman dunia pendidikan wabil khusus pelaksanaan UN yang seakan berganti menjadi Ujian Nasib. Semoga para pemangku kebijakan pendidikan di negeri ini membaca karya yang amat memesona ini. Saya pribadi mengucapkan selamat! Percayalah, meski lirih, namun setidaknya sudah dikatakan.”
(Bramma Aji Putra – penulis opini di berbagai surat kabar nasional)

“Ini adalah sebuah buku yang berisi pengalaman penulis-penulisnya yang ditulis kembali dengan tujuan menularkan inspirasi positif kepada pembaca. Menghibur dan sekaligus membuka kenangan lama kita tentang perjuangan untuk lulus UN.”
(Akhi Dirman Al Amin – novelis, mewakili novelis muda Indonesia di MASTERA/Majelis Sastra Asia Tenggara, penerima 20 Penghargaan Tingkat Nasional)

“Buku ini memotret realitas UN yang sering kali pemerintah menutup mata. Sebuah buku yang kritis, edukatif, dan menggugah, disajikan secara apik dalam buku ini. Siapa pun Anda wajib memiliki buku ini.”
(Inggar Saputra – mahasiswa UNJ, aktivis pendidikan)

Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Ayo pesan sekarang juga...

Kamis, 21 April 2011

R.A. Kartini dan Salah kaprah Emansipasi

Siapa yang tidak tahu RA Kartini…??? Sudah pasti semuanya mengenal R.A. Kartini. Pejuang emansipasi wanita pada masanya. Beliau dengan gigih memperjuangkan kesetaraan hak antara wanita dengan laki-laki terutama dalam hal pendidikan. Karena pada saat itu kaum wanita tidak mendapatkan hak yang layak dalam memperoleh pendidikan. Pendidikan setinggi-tingginya hanya khusus untuk kaum laki-laki. Kegeraman beliau akan hal ini tertuang dalam buku Habis Gelap terbitlah Terang. Karena perjuangan beliau inilah tanggal kelahiran R.A. Kartini diperingati sebagai hari Kartini. Tonggak awal emansipasi wanita atas kaum laki-laki.


Sayangnya perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita dijadikan senjata ampuh oleh kelompok feminis. Kelompok yang berjuang untuk kesetaraan gender wanita atas kaum laki-laki. Lalu dimana letak kesalahan dalam perjuangan mereka…??? Bukannya sama saja dengan perjuangan R.A. Kartini yaitu memperjuangkan hak-hak kaum wanita…??? Tentu saja berbeda. Perjuangan kelompok feminis sudah kebablasan. Sudah salah kaprah. Mereka benar-benar ingin menyamakan hak kaum wanita dengan kaum laki-laki bahkan kalau bisa di atas kaum laki-laki. Padahal menurut kodratnya tentu saja berbeda antara kaum laki-laki dengan kaum wanita.


Sebagai contoh dalam hal bekerja. Kaum feminis mendorong para wanita untuk bekerja dan mengejar karir. Bahkan kalau bisa menempati posisi tertinggi melebihi posisi laki-laki. Karena mereka menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga dapat menghilangkan kesempatan untuk berkreatifitas dan mengungkung kaum wanita. “Mari kita tinggalkan pekerjaan rumah tangga, karena semua itu telah mengungkung kita untuk berkarier dan menghilangkan kesempatan kita untuk berkreatifitas. Bergulat dengan sumur, kasur dan dapur, hanyalah konstruksi patriarkhi yang dipaksakan bagi kaum wanita, yang kemudian berubah menjadi common truth untuk menindas kaum wanita.” Lambat laun mereka mengalihkan fungsi utama seorang Ibu sebagai Ibu rumah tangga. Padahal kalau kita menilik, Fungsi Ibu sebagai Ibu rumah tangga adalah wajib sedangkan hukum bekerja adalah mubah bagi seorang wanita. Untuk hal prinsip seperti ini saja ide mereka sudah bertentangan dengan Islam.


Yang paling salah kaprah adalah seorang pejuang feminis wanita di Amerika memimpin sholat Jum’at. Atau contoh lainnya kaum feminis selalu berada di garda terdepan dalam penolakan terhadap RUU pornografi. Mereka menganggap Menutup aurat bagi wanita hanyalah mengungkung kebebasan kaum wanita. Kalau semua yang mereka inginkan adalah kebebasan terhadap kaum wanita, lalu dimana letak hukum-hukum syari’at…???


Begitulah segelintir contoh perjuangan kaum feminis yang salah kaprah. Jangan sampai kita kaum wanita mengikuti arus pemikiran feminis dengan terus mengejar karier demi kedudukan dan materi tetapi mengabaikan fungsi utama sebagai ibu rumah tangga. Islam itu adil. Itulah kenapa kewajiban mencari nafkah ada di pundak laki-laki. Sedangkan kaum wanita memiliki tugas yang sama beratnya yaitu mencetak generasi pemimpin yang akan menegakkan Islam sebagai sistem dalam kehidupan.



NB : mbuhlah sepertinya tulisannya kok ngawur ya alurnya... monggo dikritik... ^_^... maklum dalam tahap pembelajaran...

Senin, 28 Maret 2011

Mengajar yang Mau diajar... (*Guru Nekad...)

Profesi pengajar merupakan salah satu profesi yang saya kagumi... dambakan... pokoknya pengen banget yang namanya mengajar. Keinginan mengajar itu justru muncul pas saya sudah kerja. Apalagi akhir-akhir ini... ketika saya sudah lulus kuliah... keinginan untuk mengajar sangatlah kuat. Pengen kalau malam disambi mengajar privat tapi kok ya masih banyak kesibukan lain yang harus dilakukan di malam hari (*sok sibuk... hi3...). Pengen menjajal kemampuan mengajar di sebuah bimbel tapi kok ya masih dipikir-pikir ulang. hadehhh...

Padahal pas saya masih kecil (*masih imut-imut...) tidak ada sama sekali keinginan dari diri saya untuk menjadi seorang pengajar. Kalau saya sedari kecil sudah pengen menjadi pengajar tentulah saya dengan mantap akan memilih kuliah di fakultas Keguruan. Nyatanya kan tidak. Karena memang saya tidak mau menjadi seorang pengajar. Alasannya simpel tidak mau ikut-ikutan bu'e yang nota bene seorang guru SD. Makanya dulu ketika ditanya apa cita-citanya saya bingung. tidak seperti anak-anak yang lain yang dengan cepat menjawab "guru...", "dokter...", "polisi...", dsb. Saya bingung. Karena saat itu saya ingin menjadi ahli pertanian. Bahkan pas masuk SMU saya sudah mengincar IPB berharap mendapatkan PMDK di sana. Yang lucu pas diminta mengumpulkan gambar yang terkait dengan cita-cita saya malah mengumpulkan gambar sawah. Maksudnya saya kelak ingin menjadi Menteri Pertanian. He3...

Waktu terus berlalu. Ternyata saya kuliah di jurusan Teknik (*jurusan yang sama-sekali tidak saya mengerti...). Pertama kali merantau di kota metropolitan kedua. Kejamnya mirip2 ibukota negara. Aduhh... ternyata biaya kuliah dan biaya hidup di perantauan sangat mahal. Atas saran seorang teman, saya disarankan mengajar privat. Saya yang waktu itu polos nggak tau bagaimana caranya kita bisa mendapatkan murid. Saya diminta menghubungi bimbel2 yang sedang membuka lowongan pengajar. Cari informasinya di koran Sabtu biasanya banyak info lowongan pekerjaan. Mulailah saya memelototi edisi koran Sabtu. Beberapa bimbel saya hubungi dan jawabannya datar-datar saja. fffiuhhh... Kebanyakan mereka mencari pengajar Fisika. Untuk urusan pelajaran yang satu ini saya angkat tangan. Menyerah... . Tiga tahun belajar Fisika tidak ada yang nyangkut di kepala.

Atas kehendak Allah, mendaratlah saya di ibukota negara. tepatnya di Jurangmangu. tentu hidup di ibukota lebih kejam. Keinginan saya untuk mencari tambahan uang dengan mengajar masih bulat. jadi saya mengajar itu bukan karena saya pinter... tapi karena nekad... kepepet... . Lumayan uangnya bisa buat beli buku. Berbekal kenekadan inilah saya mendaftar di bimbel kampus. Selang tak berapa lama saya sudah bisa mempraktekkan ilmu nekad saya. Waktu itu saya diamanahi mengajar Matematika SD di sebuah cluster. Mewah bo... bahkan anak yang saya ajar ini cas-cis-cus ngomong bahasa Inggris sama anggota keluarga yang lain. Saya ya cuma bengong... alhamdulillah kalau Matematika SD waktu itu masih bisa teratasi.

Pasien kedua (*emangnye dokter...) adalah anak Bapak kos. Si anak ini kelas 3 SMP. Sedang mempersiapkan untuk UAN. Waduhh... lebih berat ini resikonya. Bagaimana coba kalau nilai UAN anaknya jeblok... jelek... tidak ada SMU negeri yang bisa menerima. Tapi karena saya juga butuh... akhirnya saya terima tawaran bapak kos. Yang saya pikirkan waktu itu pokoknya kalau saya tidak bisa saya akan bertanya sama teman-teman sekelas. Kan mereka pinter-pinter. Benarlah... terkadang ada beberapa soal yang saya tidak bisa dan saya akan berkata ." Dik besok ya saya selesaiin soal ini..". Paginya saya akan sibuk bertanya kesana-kemari tentang soal matematika. Hi3... dasar guru nekad.

alhamdulillah nilai UAN anak bapak kos tidak terlalu jelek... pun tidak terlalu bagus... he3...(*gurunya modal nekad doang...) diterima di SMU Negeri. Karena si anak sudah lulus SMP dan sayapun sudah lulus kuliah (*maklum... cuman setahun...) maka berakhirlah masa jabatan saya menjadi seorang pengajar.

Terkadang rindu dengan suasana itu. Masa-masa dimana saya bisa berbagi ilmu dan membuat saya mengingat kembali pelajaran2 yang telah silam. Ingin sekali mengulangnya. Hayoo... siapa ni yang mau menjadi pasien selanjutnya... (*lagi ngincer bocah2 yang mau saya jadikan korban berikutnya... korban kenekadan... hi3...)

Senin, 21 Maret 2011

Kuliah Nekad VS Laptop Gratis...

“Ndru kuliah yukkk...”, Ajak salah seorang teman ngaji.

“Yukkk...”

Dipikir-pikir nggak ada salahnya kuliah. Kerja dari jam 07.30 sampai dengan jam 17.00. Selebihnya di kosan paling-paling nonton TV, baca, nglamun, bengong, ya sudah itu-itu saja. Kok kayaknya hidup menjenuhkan banget. Nggak ada tantangan. Takutnya ini akal bisa tumpul kalau kayak gini terus. Ngaji...??? iya sih ngaji mah rutin setiap weekend. Tapi dari Senin sampai Jumat...??? bisa-bisa kesambet kalau kebanyakan bengong di kamar. Hiii... seremmm.... . Makanya pas ada yang ngajakin kuliah ya ayuk saja. Masalahnya jangan kuliah yang mahal-mahal ya... bisa-bisa mendadak kena Kanker kalau kuliah yang biayanya selangit.

Terpilihlah kampus A. Murah euyy... . Dekat lagi lokasinya... jalan juga nyampe. Berbunga-bungalah hati ini. Terlebih di brosurnya tertulis “Gratis 20 Laptop... xx PC... xx Flashdisk... xx Backpack... “. Wih... keren banget ya ni kampus. Sudahlah murah... gratis laptop lagi. Semakin semangatlah diri saya ini untuk kuliah di kampus ini. Laptop. Ya benda canggih satu ini selalu memenuhi isi kepala. Rajin menyambangi alam mimpi pula. Pingin banget beli laptop. Tapi ya itu duit nggak terkumpul-kumpul. Giliran udah terkumpul eh ada saja kebutuhan mendadak yang memerlukan uang nggak sedikit. Fffiuhh... . Memang belum rejeki kayaknya.

Iklan kampus itu begitu menggiurkan. Ibarat istilah “Sambil menyelam minum air”. Dapet ilmu plus dapet laptop. Apa salahnya untuk mencoba...??? Laptop seakan-akan sudah di depan mata. Tinggal meraihnya saja (Padahal kuliah saja belum. Gimana bisa dapet laptop...) . Nggak perlu nunggu suami dulu. Kelamaan... belum jelas kapan menikahnya juga. Lho... lho... apa hubungannya laptop... suami ... pernikahan...???? Hi3... jadi begini ceritanya.... Laptop itu obsesi saya. Tapi mikir-mikir dulu kalau mau ngeluarin duit buat beli laptop. Pinginnya sih dapet laptop yang gretongan alias gratis (*dasar pelittt...). Makanya saya pingin banget nanti kalau menikah maharnya laptop. ‘Saya terima nikahnya Ndru binti Chairul dengan mahar laptop seharga 8 jeti dan seperangkat alat sholat dibayar tunai...”

Xixixixixi.... ya begitulah pernikahan yang saya inginkan, mahar berupa laptop. “Dasar cewek matre... Kasian tau calon suamimu kalau maharnya harus laptop...”, Tegur salah seorang teman. Yahh... namanya juga keinginan. Terkabul ya syukur... kalau nggak terkabul ya sudah... perlu dikoreksi lagi upaya yang telah kita lakukan. Kesal juga pas nonton TV si Nirina ternyata maharnya laptop. Wah dia nyontek ide saya tuh... hi3... memangnya Nirina kenal saya... .

Begitulah... akhirnya peburuan laptop gratispun dimulai. Pokoknya saya amat sangat begitu antusias kuliah. Walaupun di jurusan yang saya tidak mengerti sama sekali. Maklum saya termasuk segelintir orang di negeri ini yang amat sangat gaptek. Absen kuliah sedikit yang bolong. Ya... saya dengan terpaksa bolos kuliah di minggu terakhir semester. Karena sebuah musibah sehingga mengharuskan saya -yang memang hanya seorang perantau- untuk pulang kampung. Pada nantinya musibah ini akan saya ceritakan di lembaran lain. Tugas dari dosen tidak ada yang kelewat. Sipp dehh semester satu ini. Ya karena saya harus bisa mendapatkan laptop gretongan tersebut. Trus motivasi kecil lainnya saya ingin membuktikan bahwa di usia saya yang sudah berumur ini ternyata kemampuan akademisnya nggak kalah dengan teman-teman yang usianya lebih muda dari saya. FYI, saya mahasiswa permepuan yang tergolong tua di kelas. Dua puluh empat tahun usia saya saat itu. Telat banget kan....??? umur segitu teman-teman saya sudah lulus S1... bahkan ada yang sudah lulus S2. Sedangkan saya...??? baru mau akan mengambil kuliah D3. Biarinlah... daripada nggak kuliah sama sekali.... harus mentok di D1. Ya mending kuliah lagi.

Saya ceritakan keinginan saya itu ke teman-teman dekat. Maksudnya sih supaya mereka mengamini keinginan saya. “Lumayan Ndru kalau dirimu bisa dapet laptop... setidaknya meringankan mahar untuk calon suamimu nanti... “, Celetuk teman saya. Mahar...??? memangnya kapan nikahnya sih...??? kok membahas mahar segala... teman saya rupanya masih kepikiran mahar saya. Saya menjadikan iming-iming laptop gratis ini sebagai motivasi kuliah. Benar-benar memberikan energi yang begitu kuat dalam diri saya. Berarti rajin dong belajarnya....??? Psssstttt.... belajarnya cuma pas UTS dan UAS. Maklum saya kan wanita kurir. Dari pagi sampai sore harus memeras keringat demi sebongkah berlian (maunya... wkwkwk....) dilanjutkan sore sampai malam maksimal jam setengah sepuluh kuliah. Nyampe kamar kos tinggal kangen-kangenan sama si kasur empuk. Zzzzzz....

“Mbak udah lihat nilai UTS belum...???”, Tanya seorang sahabat.

“Belum... takutt... kalau nilainya jelek...”

Bagi saya yang amat sangat mengharapkan laptop, melihat nilai UTS sangatlah menegangkan. Kalau sampai nilai UTS jelek berarti harapan untuk mendapatkan laptop kandas di tengah jalan. Soalnya jatah nilai UTS 30%. Lumayan kan... dalam hati terus berdoa sambil tetap membuka website kampus. Fffiuhhh... lega... nilai UTS nggak jelek-jelek amat.... juga nggak bagus-bagus amat... . Tinggal ditambah nilai UAS... diperbaiki dikit... insya allah kalau Allah mengijinkan bakalan mendapat laptop gretongan. Amin...

Seminggu sebelum ujian...

“Ndru cepat pulang... Pa’e wis sedo... mau shubuh...”, Suara mbak Anis di seberang sana.

Langsung ambrol seluruh pertahanan tubuh saya. Ya... seminggu sebelum UAS semester I bapak saya meninggal. Ujian yang sangat berat bagi saya. Di tengah-tengah obsesi saya untuk mendapatkan laptop, ternyata Allah menguji saya dengan meninggalnya bapak. Alhasil kuis-kuis yang diadakan seminggu sebelum UAS saya nggak bisa ikut. Pasrah sajalah... mungkin laptop itu belum menjadi rizki saya.

Sekembali dari kampung, saya segera menghubungi dosen tersebut. Saya melobi apakah saya bisa ikut kuis susulan sembari saya jelaskan alasan kenapa saya tidak ikut kuis. Alhamdulillah... bapak dosen tersebut menyetujui kuis susulan dengan syarat hanya untuk saya dan jangan bilang ke mahasiswa lain. Olala....

“Dah... laptopnya kecil banget... tulisannya sih netbook di kardusnya (*gaptek stadium IV...) ... nggak ada CD roomnya lagi... wahh... Osnya linux... yahh... mereknya g terkenal lagi... gimana sih katanya gratis laptop... kok dapetnya sekuprit gini... hadehhh”

Xixixixi... begitulah... kalau benda berteknologi canggih diberikan ke orang yang mengidap penyakit gaptek... jadi linglung... bingung mau diapain...

“Lho... tadi kan cuman diminimize... dokumennya kok ilang... aduhhh ngumpet dimana lagi... dohhh... susah bangetttt...”

Senin, 17 Januari 2011

Jadi Panitia Pernikahan nii...

Siapa di antara teman-teman yang jomblo...??? ngacungg... yang tinggi ya... g usah malu-malu... hi3...

mau cerita sedikit pengalaman jadi jomblo...

Saya dan teman-teman di Cengkareng yang masih jomblo tergabung dalam laskar Ijo Lumut. Pemimpinnya...??? yahh... g ada yang mau ngacungg... dengan sangat terpaksa saya mengambil alih tampuk pimpinan... tugasnya...??? ya mengkoordinir teman-teman. Ada yang butuh panitia pernikahan...??? kami siap membantu... ada yang sakit...??? kami mengkoordinir dana... ada yang butuh barengan ...??? kami selalu ada untuk anda... hayyahhh... slogannya... tapi memang begitu... kekompakan kami membuat iri teman-teman yang udah hengkang dari cengkareng. Ada yang ngerasa nggak diperhatiin di tempat yang baru... hiks... hiks... sedihnya...

Laskar Ijo lumut telah beberapa kali menerima permintaan menjadi panitia pernikahan. Bukan sembarang pernikahan lho... pernikahan islami lebih tepatnya... wah hebat dong...??? hebat apanya... kami diminta menjadi panitia pernikahan karena emang nggak ada yang lain. Udah pada sibuk sama keluarganya sendiri-sendiri... alhasil kamilah satu2nya kandidat kuat untuk menjadi panitia pernikahan. Coba mau ngelak pake alasan apa...??? nggak ada... anak...??? suami...??? ibu...??? nggak ada... ya... mayoritas anggota laskar ijo lumut adalah perantau... jadi bener-bener nggak ada alasan bagi kami untuk menolak tugas mulia itu... jadi nggak ikhlas dong...??? kan terpaksa... ikhlas lah... ikhlas kok... huuu... ikhlas kok diomongin... hi3...

Banyak banget suka duka menjadi panitia pernikahan islami. Lebih banyak yang mencemooh ketimbang yang ngacungin jempol. Banyak yang curiga kami adalah salah satu gerombolan teroris... apalagi melihat pakaian kami para panitia yang g ada seksi2nya. Pakaian lurus dari atas sampe bawah plus wajah polos tanpa dandanan. Ada yang nyeletuk acara pernikahan ini lebih mirip suasana takziyah. Hi3... salah kami juga masa' pembatas antara tamu perempuan dan laki-laki pake kain item. Ada yang nggrundel karena ngerasa ribet. Mau masuk aja harus beda pintu sama honey-nya. "lha nanti pulangnya gimana mbak...???" yah... si Ibu gaptek nih... kan ada hape ibu sayang... disms bapaknya... "Nggak bawa hape..." ... faktanya... si bapak tinggal minta tolong dipanggilin istrinya sama pihak panitia... " Yang itu tuh mbak... ibu2 yang pake baju ijo kerudung merah... " ...wahhh pakaian si ibu g matching nii... hi3... ternyata mudah kan...???

Walaupun banyak yang ngomongin tapi kami tetap harus ramah kepada para tamu. Tetep smile... "Maaf bu... lewat sini untuk tamu perempuan..."... "Silahkan bu..."... "Terima kasih bu..."... Itu untuk bagian penerima tamu. Lebih repot lagi bagian penunggu makanan. Mereka harus bolak-balik ke dapur untuk mengganti makanan yang udah abis... trus nyiapin piring-piring dan sendok... good job friends... begitu terus dari pagi sampe malem... lama amat yak...??? yah... begitulah di Jakarta... Pesta pernikahan diadakan dari pagi sampe malem... kecuali kalo di gedung.

Fffiuuhhh... legaa... kalo semuanya sudah selesai... apapun hasilnya yang penting kami sudah memberikan yang terbaik. Saatnya melahap makanan dan pulaangg.... .

Keinginan saya pribadi nii... saya pingin kami punya kain tebal dan panjang warna pink trus diberi rampel. emang buat apaan...??? he3... itu kain ya buat pembataslah... pembatas antara tamu perempuan dan laki-laki. Jadi siapapun yang menikah bisa pake kain itu... semoga terlaksana... (mikir... berapa meter ya...??? harganya semeter berapa ya...???)

Selasa, 21 Desember 2010

Ibuku nomer satu...

"Assalamu'alaikum... bu'... bu'e... ", Teriakku begitu masuk rumah. Nggak sopan sama sekali deh kayaknya. Teriak-teriak sampe-sampe 2 tetangga penghuni gang buntu ini nutup kuping. begitulah kebiasaanku. Setiap pulang (ntah pulang dari mana aja...) begitu nyampe rumah selalu masuk dengan teriakan manggil-manggil bu'e. Dan bu'e nggak pernah menegur ato marah melihat kebiasaanku itu. Kalo aku mendapati bu'e di rumah... duhhh... leganya... nggak ada yang bisa nggantiin posisi bu'e. Dan aku merasa hampa (kayak lagunya Ari Lasso... hi3...) jika mendapati bu'e nggak ada di rumah... rasanya gimanaa gituu...bikin nggak tenang... padahal paling-paling bu'e cuman ke pasar ato ke rumah tetangga.

Ya... bu'e... panggilan kami anak-anaknya untuk ibu di rumah ini. Khas orang Jawa banget kan...??? Kenapa nggak Ibu ..??? ahh... terlalu formal. Lagian kami kan pake bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Jadi keliatannya g pas kalo manggil Ibu. Nggak matching. Mama...??? apalagi mama... panggilan itu identik hanya untuk keluarga-keluarga yang berlabel kaya. Sedangkan kami...??? bu'e sajalah sudah cukup.

Nyeritain bu'e nggak bakalan ada habisnya. Perjuangan dan pengorbanan beliau untuk membesarkan anak-anaknya. Empat jempol deh buat bu'e.

Jam tiga pagi udah bangun... menggoreng aneka jajanan. Pisang, ubi, tempe gembus, dll trus bikin nasi pecel yang murah meriah... cuma 250 harganya. Mi goreng yang dibungkusin kecil-kecil. Macem-macem deh pokoknya. Belum lagi disambi masakin kami sekeluarga. Semuanya selesai sekitar jam 5. Trus ke pasar beli aneka snack. Kurang lebih jam 6.30 bu'e berangkat ngajar. Bagaimana dengan kondisi motor bu'e...??? hi3... penuh... mulai dari bagian depan sampe belakang. Nggak ada celah kosong. Ya... bu'e membawa semua jajanan tadi ke SD tempat beliau ngajar. Alhasil motor bu'e udah mirip kayak orang jualan aja. penuh dengan aneka jajanan. Semuanya itu demi kami.

Ada kejadian yang bikin aku nangis. Waktu itu bu'e tergesa-gesa... beliau mau jatuh trus nyari pegangan. Dan... astaghfirullah... tanpa sadar telapak tangan beliau sudah masuk ke wajan dengan minyak panasnya. Alhasil seharian bu'e nyelupin telapak tangannya ke gayung yang berisi air. Duhhh... nggak tega ngeliatnya...

Selain jualan aneka jajanan di sekolahnya, bu'e juga jualan es kacang hijau di sebuah sekolah SMK. Lumayan kalo musim kemarau pasti esnya ludes. sedih banget kalo musim penghujan. Paling-paling cuma setengahnya yang laku. Tapi nggak pernah aku liat kekecewaan di wajahnya. Namanya juga orang jualan... kadang laku kadang nggak. Parahnya lagi aku suka ngomel-ngomel kalo disuruh ngambil termos es tadi ke sekolah. Males alasanku. Akhirnya tanpa menggerutu beliau berangkat sendiri ngambil termos tersebut. Begitu beliau berangkat sendiri, barulah aku nyesel kok tadi nggak mau pas disuruh ngambil termos. Hiks... hiks... nyuwun pangapunten nggih bu'... padahal ngeluarin kata "ah" aja kan nggak boleh. Lha ini aku malah ngomel-ngomel.

Walaupun bu'e terkadang mengeluh duitnya pas-pasan tetapi setiap kami minta uang untuk keperluan sekolah (ntah buku, spp, ato bimbel) selalu tersedia. SPP kami juga nggak pernah nunggak. Bahkan kami diikutkan bimbel. Dengan harapan anak-anaknya bisa mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Meskipun begitu ketika kami mendapat nilai pas-pasan beliau tidak pernah marah. Seakan sadar dengan kemampuan an
aknya. Tidak pernah menuntut lebih.

Ahli masak. Bu'elah satu-satunya anak yang mewarisi keahlian masak dari simbah. Dari tangan bu'e lah semua masakan jadi enak. Padahal kalo ngeliat cara masaknya nggak meyakinkan. Plung... plung... cepet banget... dan selalu pas rasanya. Tanpa memakai penyedap pula. Akulah fans berat masakan bu'e. Apapun yang dimasak bu'e pasti aku makan. Rumah tawonpun bisa disulap jadi masakan lezat. teman kosku sampe bergidik ngeri begitu tau rumah tawon bisa dimakan. Hi3...

Ketika aku SMA, bu'e udah nggak jualan jajanan dan es lagi. Beralih membuka bisnis katering kecil-kecilan. Hanya untuk pesanan dan paling-paling yang yang pesan teman-teman pa'e, teman-teman guru, ato sekolahku. Lumayan. Bu'e bisa ngrekrut 2 orang untuk bantu-bantu. Kami anak-anaknya paling cuma bantuin menata masakan di kardus. Bahkan kalo pesannya ribuan kardus nasi bu'e sudah terbiasa nggak tidur semalaman. Walaupun keliatannya capek tapi bu'e sangat menikmatinya. Hobi. Begitu katanya. Sampe sekarang kegiatan masak-memasak ini masih beliau lakoni.

Ahh... bu'e bagaikan malaikat di rumah kami. Selalu melindungi kami. Hubunganku sama bu'e seperti layaknya sahabat. Berbagi suka dan duka. setidaknya sejak aku baligh kami sudah terbiasa berbagi. Bu'e-lah yang tau segalanya tentang aku. Nggak nyaman kalo belum cerita sama bu'e. Begitu juga dengan bu'e kalo ada masalah cerita ke aku. Walaupun nggak semuanya sih... terlebih semenjak pa'e meninggal.

Bu'e selalu mendukung keputusanku. Walaupun awalnya sedikit keberatan tapi lama-lama pasti luluh juga. Ketika aku pertama kali memakai kerudung sama sekali tidak ada penolakan dari beliau. Bahkan beliau semangat sekali njahitin baju-baju panjang buatku. Pun ketika aku memakai jilbab (baju lurus panjang). Beliau langsung membelikan jilbab baru. satu biji. Tapi aku senang sekali karena beliau tidak melarangku memakai jilbab. Walaupun ada sedikit kekhawatiran. Takut anaknya ngikut pengajian sesat atau teroris. Kepercayaan dari bu'e inilah yang justru mendorongku untuk bisa membuktikan walaupun ngikut ngaji dengan seabreg kegiatannya tapi masih bisa tetep sekolah/kuliah/kerja.

Yang membuat hatiku perih... justru di usianya yang menginjak 1/2 abad lebih aku tidak berada di sampingnya. Kalo boleh memilih, aku memilih tinggal di sisi bu'e. Aku hanya bisa berdo'a semoga bu'e selalu berada dalam lindungan-Nya.

Jumat, 17 Desember 2010

CaMaD... (catatan Mahasiswa Nekad)... Part 1...

Menjadi mahasiswa adalah impian saya sejak kecil. Kayaknya enak banget jadi mahasiswa itu. G pake seragam... belajarnya nyante... bisa ngekos... g diomelin emak... mandiri gitu keliatannya... wis pokoke enak deh... ya... setidaknya itulah gambaran mahasiswa yang saya liat di TiPi. Dan Ternyata... gambaran mahasiswa yang saya liat di TiPi sangat jauh berbeda sama kenyataan. Penuh perjuangan euyy...!!!

oke... saya buka rahasia dulu...

Pertama kali saya beralih status menjadi mahasiswa pada tahun 2003. Ketika nama saya terpampang di antara ribuan nama lain di koran lokal. Melototin tulisan yang entah pake size berapa. Keciiilll bangettt.... . Senang... pasti...!!! karena saya berhasil mengalahkan lawan-lawan yang ingin menembus jurusan itu.

Ffffiuuhhh... lega... seisi rumah juga lega... si kecil akhirnya kuliah juga... tanpa harus repot-repot cari-cari universitas swasta yang tentu saja g murah.

Permasalahan timbul ketika kami para mahasiswa baru diminta membayar biaya daftar ulang yang menurut ukuran keluarga saya tergolong mahal. Rp 2.750.000,- . Inget banget saya nominalnya. Katanya universitas negeri tapi kok mahal banget sihh...??? yang membuat air mata selalu meleleh ketika mengingat bagaimana akhirnya Ortu mendapatkan uang sebanyak itu. Tanpa malu-malu Ortu pinjam sana-sini demi biaya daftar ulang si bontot ini. Hiks... hiks... belom lagi biaya kos dan tetek bengek lainnya. Dan akhirnya saya harus menangis deras... deras sekali... karena ternyata saya tidak cocok di jurusan ini... catet... menurut saya... Saya tidak bisa melaksanakan amanah dari Ortu. Hwa... hwaaa... (nangis guling-guling...).
itu tadi kenekadan saya yang pertama. Memilih jurusan yang sama sekali tidak saya kuasai bidang ilmunya. Keteteran mengejar ketinggalan pelajaran... susah deh pokoknya... saking lemotnya kali ye....

Pada tahun berikutnya saya ikut tes Sekolah Tinggi Kedinasan yang ada di negeri ini. Motivasinya cuma satu... biar bisa kuliah gratis. Konon menurut kabar yang santer beredar, Sekolah Tinggi Kedinasan itu gratis. Mahasiswa tinggal bayar untuk biaya kos karena tidak tersedia asrama. Siapa coba yang tidak tergiur ...??? Tes ini merupakan yang kedua kalinya. Nekad. Semuanya sendiri. Mulai dari pendaftaran sampai tes. Untuk tes alhamdulillah ada teman yang menampung nginep semalem. Tes tanpa persiapan sama sekali. Tanpa belajar. Tak disangka lolos tes walaupun cuma D1. Kagettt... kok Jakarta...??? bukan Malang...??? kan tesnya di Malang...??? Walhasil, saya nekad juga berangkat ke Jakarta. Byuh... byuh... adohe rekkk... kalau bukan karena kuliah g bakalan mau saya pergi ke Jakarta. Tentu saja kepergian saya dengan berlinang air mata. Secara saya belum pernah pergi sejauh itu... tanpa ditemani Ortu lagi... Bonek sajalah... Bondo Nekad...

Kemudian pada tahun 2008 (3 tahun pasca kelulusan...) saya menyandang status mahasiswa lagi. Diploma 3. Kok g langsung S1...??? suka-suka saya lah... hi3... galak amat ya... Males ngadepin pertanyaan serupa yang itu-itu aja. karena menurut saya di kampus ini biayanya paling murah bila dibandingkan kampus-kampus lain di Jakarta. Sayangnya kampus ini tidak membuka program S1. Mau nggak mau harus mengambil program D3. Itupun sebenarnya niat awal kuliah cuman buwat nemenin sahabat yang ngebet banget pengen kuliah. Manajemen Informatika. Wedehh... keren banget kan kedengarannya...??? padahal saya orangnya gaptek banget. Tapi g pa-pa lah... g ada salahnya mencoba bukan...??? tuh kan nekad lagi...??? hi3...

Menjadi mahasiswa tidak mudah. Penuh perjuangan... Itu setidaknya yang saya rasakan. Baik dari segi ilmu maupun biaya. Bersyukurlah bagi teman-teman yang lancar jaya kuliahnya. Tanpa harus mikirin biaya kuliah. Tak perlu repot-repot cari kerjaan sambilan. Bersyukurlah... karena tidak semua orang seberuntung itu... ok... ok...

nekadd...??? kayaknya emang perlu deh... pisss...^_^