Rabu, 28 Maret 2012

Bukfer 2012...



Bukfer seminggu kemarin tidak berkesan apa-apa. Bukan karena buku-bukunya sedikit atau acaranya kurang menarik. Tapi diri saya sendirilah penyebabnya. Biasanya kalau ada Islamic Bookfair saya termasuk pengunjung yang rajin menyambangi Istora Senayan. Walaupun tidak banyak buku yang dibeli tapi sudah cukup puas dengan hanya jalan-jalan melihat tumpukan buku di sepanjang stand pameran yang bertumpuk-tumpuk. Hwaa... andaikan saya punya banyak duit akan saya borong semua buku itu.

IBF untuk tahun ini saya sambut dengan biasa saja. Tidak ada euforia berlebihan. Penyebabnya tak ada budget banyak untuk alokasi buku bulan Maret ini. Kalau saya kalap beli buku sudah bisa dipastikan saya akan kere di minggu-minggu terakhir bulan Maret. He3... . Selain itu karena minggu-minggu pas penyelenggaraan IBF saya memiliki jadwal yang cukup padat (qiqiqi... gayane rek...). Jadinya saya jadwalkan cukup sekali saja ke IBF yaitu hari Rabu sepulang kerja. Niatnya cuma untuk beli satu buku dan satu kerudung. Byuh... byuh... byuh... saknone rek... . Daripada saya harus melewatkan hajat tahunan ini. Yah... pokoknya harus datang ke IBF walaupun cuma sekali dan sebentar.

Hari yang dinantikanpun tiba. Mengazzamkan dalam diri hanya beli 1 buku dan 1 kerudung. Tidak lebih. Begitu masuk... hadehhh.... ngiler... dimana-mana ada tumpukan buku... kalau jilbab dan kerudung sih nggak terlalu ngiler. Karena kebutuhannya cuma beli satu buku, tanpa berlama-lama saya langsung menuju TKP. Enak banget kalau ke IBF itu pas hari kerja. Nggak terlalu rame dan bisa puas menikmati tumpukan buku tanpa ada yang mengusik. Ke toilet juga nggak ngantri. Coba kalo weekend Sabtu-Ahad fffiuhhh sudah dipastikan jalanpun susah. Apalagi kalau mau ke toilet antrinya panjang banget. Pokoknya puas deh kalau ke IBFnya hari kerja. Pengennya Al-Azhar Press menjadi tujuan pertama. Karena nggak tahu tempatnya dan yang nampak di depan mata "Khilafah Press" ya akhirnya mampir ke situ dulu. "Rp 7.000,-". Waduh langsung ijo mata melihat tulisan Rp 7.000,- . Tanpa berlama-lama akhirnya buku "Orang Miskin Naik Haji" pun sudah berpindah tangan. "Ahh biarinlah murah ini... ", kata Saya dalam hati. Sekalian tanya ke bapak penjaga stand dimana letak stand Al-Azhar Press.

Begitu sampai di stand Al-Azhar press kecewa berat karena buku yang ingin sekali saya beli tidak ada. "Masak sih Pak belum terbit...??? lha wong di fesbuk sudah ada iklannya kok...", Kata Saya. Yahh... sudah jauh-jauh ke sini ternyata buku yang dicari nggak ada. Akhirnya saya putuskan mencari buku yang lain. Pilihanpun jatuh ke "Indahnya Romantika Ibu Ideologis". Pasti buku ini sangat bermanfaat bagi saya. Mengingat isinya adalah sharing emak-emak ideologis dalam hal manajemen rumah tangga tetapi tetap tidak mengesampingkan kewajiban mereka sebagai pengemban dakwah. Subhanallah. Nggak bakalan menyesal deh. Dibandrol dengan harga Rp 29.000,- . Lirak-lirik buku... ahaii... ada buku murah 5000-an. Bundel Al-Islam, buku tentang hadist ahad, dan Terjun ke Masyarakat cukup menarik perhatian. Oia bucil-nya bu Asri Supatmiati "Ssssttt... Mau Nikah ; Butuh atau Kebelet" sepertinya patut dicicipi juga. "Uang kertas VS Dinar dan Dirham Islam" sepertinya juga lezat. Dalam waktu singkat buku-buku itu sudah dimasukkan ke dalam tas plastik dan berpindah ke tangan saya. Waduh-waduh... ini mah sudah melenceng jauh dari yang awalnya cuma niat beli satu buku. Stop... stop... ada buku-buku murah Mizan. Saya obrak-abrik keranjang buku yang ada tulisan murah. Akhirnya terpilihlah "Small Things Kecil Tapi Penting !" karyanya mbak Dewi Rieka, "I Love You, Ayah", trus "Mencicipi Kesuksesan Amanda" karyanya mbak Indari Mastuti. Ckckck... bener-bener ya kalau sudah ke bookfair. Hmmm....

Tujuan terakhir adalah beli kerudung segi empat tebal warna ungu muda. Berputarlah-putarlah kami mencari stand Benayu. Begitu sudah ketemu stand-nya ternyata kerudung yang saya cari tidak ada. Yahh... kok sepertinya yang saya cari tidak ada semua. Ya sudahlah sembari istirahat menyelonjorkan kaki (ternyata lumayan pegel juga...) kami menikmati Festival Nasyid yang diadakan di panggung ruang utama. Suka sama satu grup nasyid saja selebihnya menurut saya terlalu lebay gayanya. Bahkan saking lebaynya mirip boyband. Sedihnya lagi itu pengunjung perempuan teriak-teriak histeris seperti melihat selebritis. Aduh ini festival nasyid kok mirip konser boyband. Hanya sebentar di situ dan akhirnya kami putuskan untuk pulang. Lagian sudah malam, takut tidak ada angkot.

Sedih... IBF tahun ini tidak puas menikmatinya. Apalagi pas hari Ahad ada bedah bukunya Ustadz Felix. Jadinya cuma mendengarkan cerita teman-teman yang datang pas bedah buku beliau bahkan mereka jadi panitianya lho dan mendapatkan buku "Habits" gratis. Hiks... hiks... hiks... .



NB : sssttt... kabar-kabarnya saya juga mendapatkan buku "Habits" gratis. Qiqiqi... ada yang berbaik hati memberikan... terima kasih saudariku... ^_^

Selasa, 20 Maret 2012

Pengen Resign... Part 4...



Hmm... Tulisan "Pengen Resign" sudah memasuki part 4...

Banyak hikmah yang saya dapat pas pulang kampung kemarin. Sabar... . Sabar menghadapi berbagai pertanyaan seputar rencana resign plus sabar menjawabnya. Harus berhati-hati menjawabnya karena yang saya hadapi adalah orang-orang yang jauh lebih tua dari saya. Alhamdulillah setelah dijelaskan mereka mau memahami alasan saya dan mereka mendoakan saya semoga memang pilihan yang saya ambil itu adalah yang terbaik. Terharu saya mendengar jawaban mereka. Mereka adalah pakdhe-pakdhe yang sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri-pengganti bapak-. Walaupun agak sedikit kecewa dengan keputusan saya tapi mereka menghargai keputusan yang saya ambil. Saya berjanji pada diri sendiri tidak akan mengecewakan mereka. Saya harus bisa berbuat yang lebih baik lagi.

Bue... . Orang yang saya anggap sebagai Ibu nomor satu setidaknya bagi saya. Saya meminta maaf dan bertanya berulang kali sesungguhnya perasaan beliau itu seperti apa terkait rencana saya untuk resign. Dan berulang kali pula beliau menjawab ikhlas dan tidak meminta balasan apapun atas jasa menyekolahkan saya. Saya terharu mendengar jawaban beliau (*mungkin memang lagi melow... ). Beliau malah memotivasi saya untuk membuktikan bahwa pilihan saya itu benar.

Ada satu orang saudara yang frontal menentang keputusan saya. Saya hanya bisa diam karena nanti kalau saya jawab pasti kata-kata kasar yang akan keluar dari mulut saya. Walaupun mangkel dan pengen menangis tetap saya tahan. Biarinlah... lha wong Pakdhe saya saja tidak keberatan kok. fffiuuhhh...

Mungkin bagi orang yang terbiasa bekerja menjadi karyawan atau PNS keputusan resign adalah sesuatu yang tidak tepat. "Eman...". Hidup itu butuh uang. Lha kalau gaji saja tidak pasti bagaimana mau mencukupi kebutuhan ekonomi...??? ahhh itu kan rumusnya orang yang berotak kiri. Rizki kan bisa darimana saja. Tidak harus jadi pegawai yang punya gaji tetap per bulan. Saya pengen bebas dari kekangan waktu 9,5 jam hanya untuk bekerja. Gaji sedikit tidak masalah yang penting saya bisa mengendalikan waktu saya. Hehehe... emang dasarnya sudah malas kerja... . Iri dengan teman-teman yang bisa bebas mengatur waktunya.

Terima kasih untuk orang-orang yang telah mendukung saya. Tanpa kalian sadari dukungan walaupun hanya berupa kata-kata sangatlah berarti bagi saya. Karena dengan dukungan itulah saya semakin mantap dengan keputusan yang saya ambil.

Kamis, 08 Maret 2012

Awasss... Miss Ngambek Lewat... ^_^

“Biar indri bisa hidup lebih tenang dan g diganggu sama muslimah yang sangat sensitif dan akhirnya sering ngambek, saya pindah aja ya ndri, afwan mungkin ini lebih baik khususnya buat indri, syukron sudah jagain saya selama ini, sudah buanyak sekali bantu saya tapi saya tdk pernah bikin indri seneng ataupun tenang, apalagi saya katanya persiapan mau diqassam tentulah saya harus berbenah... dan akan saya awali dengan dengan hidup mandiri tidak bergantung sama orang lain, sudah cukup lama saya hidup dalam ketergantungan, saya akan cari kostan atau kontrakan, temenin yuk?” (pesan masuk pagi-pagi bolong dari kucrit ....)

Kalau aku nggak ingat itu hape satu-satunya yang aku miliki pasti sudah kubanting. Biar pecah dan aku nggak akan pernah lagi membaca tulisan yang sangat aku benci itu. Toh, nyatanya sampai sekarang tulisan itu masih tersimpan rapi di inbox bersama sms-sms lainnya yang masuk sesudahnya. Sms itu dikirim setelah aksi diammu yang lagi-lagi aku nggak tau apa pemicunya. Ingat nggak Crit...???


Hwaaa... Kucrit pindah... . Berat rasanya melepasmu Kucrit. Apalagi Kucrit sudah tinggal bareng aku selama 3 tahun. Walaupun aku akui kita sering bertengkar... sering ngambek-ngambekan... tapi aku sebenarnya sayang banget sama Kucrit. Kuliah bareng... ngaji bareng... tinggal sekamar... . Sedih kalau membayangkan sekamar sendiri. Biasanya sepulang kerja atau pulang kuliah ngoceh berdua sampai malam eh ini jadinya cuma bengong... ngantuk... . Tapi Kucrit tetap memaksa untuk pindah. Aku nggak bisa melarangmu. Apalagi katamu kepindahanmu ini untuk memperbaiki diri. Padahal dalam diri ini tidak ada setitikpun rasa benci... rasa direpotkan... atau yang lainnya. Yang ada hanya keinginan untuk berbagi. Salahkah...??? dan kejelekanku adalah memiliki kekhawatiran berlebih terhadapmu Kucrit. Karena aku memang menyayangimu.


Alhamdulillah beberapa bulan pasca kepindahanmu menunjukkan perkembangan yang membaik. Kucrit sudah semakin dewasa. Apalagi sekarang sejak Kucrit sudah menikah. Subhanallah benar-benar Kucrit sudah berubah. Nggak ngambekan kayak dulu lagi. Jadi kangen sama Kucrit. Sayang Kucrit tinggalnya jauh di Jakarta Utara. Paling banter cuma bisa menelepon. Mendengarkan suaramu dan yang pasti curhat.


Semoga Kucrit tetap berada dalam lindunganmu ya Allah. Semoga sukses membentuk keluarga ideologis. Apalagi dalam hitungan bulan Kucrit mau melahirkan. Melahirkan seorang pejuang yang akan menegakkan kalimahmu ya Allah.


From Kucrut... Thanks for the friendship that you’ve given to me... all memories with you will be saved at one space in my heart... overall, you’re one of my bestfriend that I have. Because we’ve shared all our happiness and sadness together...

Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY : Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra


Senin, 05 Maret 2012

Jakarta itu Kejam, Kawan ...!!!




Jakarta... nggak ada seorangpun di negeri ini yang nggak kenal Jakarta. Kalau memang benar ada yang nggak tahu apa itu Jakarta sudah bisa dipastikan orang ini kuper. Kebangetanlah masak Ibukota negaranya sendiri nggak tahu. Namanya juga ibukota jadi pusat segala sesuatu ya ada di Jakarta. Pusat Pendidikan, perdagangan, teknologi, perekonomian, kriminalitas, kerusakan moral, deelel. Pusat pendidikan : banyak sekolah dan perguruan tinggi di Jakarta baik swasta maupun negeri. Tinggal dipilih aja mau sekolah dimana asalkan punya duit. Pusat perdagangan : ada pasar Tanah Abang pusat baju dan tekstil, Pasar Glodok pusat elektronik, plus mall-mall yang jumlahnya sudah tidak bisa dihitung lagi. Mau cari apa-apa di Jakarta juga lengkap. Mau nyari gadget keluaran terbaru juga gampang. Nggak akan ketinggalan tren deh pokoknya kalau di Jakarta. Fashion style, hair style ya trendsetternya dari Jakarta. Tapi di balik segala kemewahan dan kemudahan yang ditawarkan Jakarta ternyata justru menjadi bumerang bagi Jakarta. Ya... Jakarta termasuk penyumbang kriminalitas terbesar di negeri ini. Banyak kasus kriminalitas dan kerusakan moral yang terjadi di kota ini. Kok tau...??? lha itu buktinya Pos kota dan Lampu merah nggak kehabisan berita setiap harinya. Hehehe...


Belum lagi masalah transportasi yang berimbas pada kemacetan jalan raya, bukit-bukit sampah, dan banjir yang seakan-akan tidak kunjung selesai. Bayangin aja masak jalan kaki sama naik angkot lebih cepat yang jalan kaki. Karena apa...??? ya macet. Gimana nggak macet lha masing-masing anggota keluarganya pada bawa mobil. Trans Jakarta alias busway sudah nggak bisa diandalkan lagi. Hanya orang-orang sabar yang mau menggunakan busway sebagai alat transportasi. Berarti banyak yang kaya dong di Jakarta ...??? nggak juga. Lihat saja di pinggiran kali atau di pinggiran stasiun masih banyak rumah-rumah kecil yang terbuat dari kardus dan triplek. Yang kaya semakin kaya... yang miskin makin terpuruk. Sampah berserakan dimana-mana. Sampai pernah aku menemui di sebuah daerah di Jakarta tidak menemukan yang namanya tempat sampah. Sampai keheranan masak di sepanjang jalan nggak ada tempat sampah. Akhirnya ketika aku tanya salah seorang warga di situ jawabnya innocent banget “Kami buang sampahnya di kali Mbak...”. O...o... kamu ketauan... hayahhh... lah ternyata... . Aduh Ibu... bagaimana Jakarta nggak banjir lha warganya saja pada buang sampahnya di kali. Benar saja pas tahun 2007 daerah ini kebanjiran sampai ketinggian sekitar 4 meter.


Dengan segala image Jakarta yang nggak banget di mataku maka nggak pernah sedikitpun terlintas keinginan untuk tinggal di Jakarta bahkan hanya untuk sekedar singgah. Buat apa ke Jakarta paling-paling kena macet. Kesannya di Jakarta itu ribet banget deh. Lha kok akhirnya tinggal di Jakarta ...??? ffiuhh... nasib yang membawaku bisa sampai di Jakarta kota metropolitan. Kalau bukan karena harus kuliah nggak bakalan aku menginjakkan kaki di kota ini. Kuliahpun sebenarnya terpaksa karena awalnya dikira bakalan diterima di Malang. Ternyata pas melihat papan pengumuman tercantum bahwa aku diterima di Jakarta. Hwaaaa... bagaimana ini ...??? Teringat bahwa aku memilih Sekolah ini karena nggak punya uang buat biaya kuliah. Jadi mau nggak mau aku memang harus berangkat ke Jakarta.


Nggak kerasa sudah tujuh tahun lebih aku tinggal di Jakarta. Pahit manis kehidupan di Jakarta sudah lengkap dirasakan. Komplit... plit... . Hmmm... walaupun Jakarta menurutku kota yang kejam, tapi aku nggak pernah mengalami yang namanya kecopetan, pelecehan, penodongan, dan sejenisnya yang umumnya kerap dialami para warga Jakarta. Selama ini aku bersyukur nggak sampai mengalami hal yang seperti itu. . Alhamdulillah...


Tapi ternyata aku harus takluk sama angkot kecil dengan nomor 04 yang setiap hari sabtu aku tumpangi. Ya... akhirnya aku kecopetan juga. Aku masih nggak habis pikir kok bisa ya hari itu aku kecopetan. Aku heran bagaimana cara si pencopet itu ngambil hp di tas. Padahal tas selama perjalanan aku dekap terus dan kondisi penumpang angkot nggak penuh. Udah gitu pencopetnya menyebarkan berita bohong dan minta-minta pulsa ke nomor kontak yang ada. Nggak tahu berapa banyak orang yang sudah jadi korban transfer pulsa. Duhh... sekali-kalinya kecopetan kok ya orangnya jahat banget.


Gara-gara orang jahat ini aku dan teman sekamar (*untung ada dia yang siap menemani...) malam-malam harus kelayapan sampai Jakarta Pusat untuk menonaktifkan nomor yang telah disalahgunakan ini. FYI, kalau mau menonaktifkan nomor simpati tidak bisa via telepon tapi harus datang ke Grapari. Dan karena hari itu Sabtu, satu-satunya Grapari yang buka 24 jam ya Grapari pusat yang ada di Jakarta Pusat. Fffiuuhhh.... mantappp... . Eh, pas kami istirahat di masjid untuk sholat Maghrib si pencopetnya menghubungi kami. Katanya dia nggak terima degan banyaknya sms yang menghujat dia dan menuduh bahwa dialah pencurinya. Lah...??? Katanya dia cuma “nemu” HP di angkot 04 sekitar jam 2 siang. Bentar... bentar... padahal aku kehilangan HP sekitar jam 9.30 pagi. Aneh... masa’ si pencopet pertama sengaja ninggalin HP di angkot...??? atau kecopetan juga...??? nggak masuk akal... pasti dia bohong. Secara logika, kalau memang dia yang cuma “nemu” seharusnya ya dikembalikanlah. Apalagi di HP itu ada sekitar 100 panggilan dan sms dari teman-teman yang meminta supaya HP dikembalikan lagi. Diajak janjian untuk ketemuanpun kesannya bertele-tele. Padahal kalau benar dia mau diajak ketemuan dan mau mengembalikan HP nanti yang datang menemui dia bukan kami melainkan suami teman. Yahhh... ternyata dia “ngambek” karena banyak yang menghujat dia dan keputusan akhirnya dia nggak mau mengembalikan HPku. Alah... alah... Pak... dari tadi juga paling-paling nggak mau mengembalikan HP.


Hmmm... kalau buat aku sendiri sejak kejadian ini jadi mikir kira-kira aku sudah berbuat salah apa ke orang kok aku bisa kecopetan. Mungkin ada hak orang di harta yang selama ini aku dapat. Wallahu’alam..... . Yang jelas hidup di Jakarta harus banyak-banyak berdoa dan selalu waspada karena Jakarta itu kejam, Kawan.

Senin, 27 Februari 2012

Pengen Resign Part 3...

Tulisan "Pengen Resign" sudah memasuki part 3 nih... he3... . Tulisan "Pengen Resign" akan berakhir ketika saya benar-benar sudah resign. Minta doanya ya dari teman-teman semua semoga lancar...

Mungkin sebagian besar orang menganggap saya sebagai anak durhaka atau minimal "nggak tau diri". Yah wajarlah kalau mereka menganggap saya seperti itu. Karena saya sendiri merasa memang saya nggak tau diri. Sudah disekolahin mahal-mahal sampai harus utang ke sana kemari ternyata balasannya tidak setimpal. Setidaknya itu yang sekarang saya rasakan. Tapi bagaimanapun juga keputusan harus tetap diambil. Sepahit apapun.


Saya lebih memilih untuk tetap resign walaupun surat permohonan sampai detik ini belum juga dibuat. Insya Allah dalam beberapa bulan ini. Saya yakin pasti terbersit rasa kecewa dan sedih di hati bue. Tapi mau bagaimana lagi ? Keputusan saya sudah bulat. Dan terakhir telepon bue hari Sabtu kemarin nada bicaranya sudah beda dari yang sebelumnya. Sudah terdengar lebih ikhlas (kayaknya sih... ). Ffffiuuhhhh... leganya luar biasa. Mata saya berkaca-kaca mendengar kata-kata bue dari seberang telepon. Perempuan yang tidak terasa sudah berumur setengah abad lebih itu selama ini selalu mendukung keputusan saya walaupun pada awalnya keputusan saya untuk resign beliau agak keberatan. Tidak mudah dan saya yakin tidak semua orang tua bisa menyetujui keputusan anaknya untuk resign. Tapi itulah hebatnya bue.


Saya berjanji untuk tidak akan mengecewakan bue. Saya ingin membuktikan bahwa keputusan yang saya ambil ini adalah benar. Saya akan terus berusaha untuk membesarkan hati bue agar beliau tidak terlalu kecewa.

Jumat, 24 Februari 2012

Merajut Mimpi dengan Ngeblog...

Wah... saya termasuk pemula dalam dunia blog. Ibaratnya kalau tingkatan anak sekolah ya masih TK. Belum ngerti apa-apa. Mulai merambah dunia blog yang ada di internet sejak April 2010. Multiply-lah yang pertama kali mengajarkan saya mengenai blog. Memilih Multiply karena kemudahan membuat themes dan terkesan simpel. Dari blog ini saya berkenalan dengan para penulis. Saya sok SKSD dengan mereka. Saya add blog mereka dan berharap cepat dikonfirmasi. Menjelajahi blog mereka sangatlah menyenangkan. Membaca tulisan-tulisan mereka tentang dunia kepenulisan, tips-tips sukses menembus media, dan motivasi dalam menulis. Pokoknya sangat menyenangkan. Salah satu blogger yang saya kenal ya mbak Aan. Subhanallah beliau baik banget nggak pelit bagi-bagi ilmu kepenulisan. Padahal saya termasuk nyuwbai. Saya jadi semangat merajut mimpi jadi penulis.

Entah kenapa saya pelan-pelan mulai meninggalkan Multiply. Kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan saya untuk tidak ngeblog. Tapi ya begitulah saya. Kalau lagi mood nulis sehari bisa dua tulisan. Eh giliran males nulis bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan saya tidak menghasilkan satu tulisanpun. Sampai-sampai dosen saya yang juga blogger menegur kok saya jadi jarang update isi blog. Hehehe... makasih bu telah mengingatkan saya. Karena sudah kelamaan nggak ngeblog di Multiply akhirnya saya pindahan rumah... eh blog. Rumah dunia maya maksudnya. Saya memilih blogspot sebagai rumah baru. Sebenarnya wordpress juga punya tapi masih agak bingung. Jadi yang lebih diurusi ya yang di blogspot. Bingung memilih nama akhirnya pakai nama asli saja dan tulisan yang paling saya suka dari dulu untuk blog saya ya “Sejenak Mengambil Jeda...”. Entah kenapa saya suka banget dengan kalimat itu. Mulai utak-atik themes dan akhinya dari sekian themes terpilihlah themes dengan campuran warna merah marun dan pink. Cari-cari picture yang tepat. Hmmm... rambut merah Kenshin Himura cocok sama warna background blog. Sedikit ditambahkan aksesoris dan tarrraaa.... jadilah rumah baru yang girly banget. Qiqiqi... nggak girly sih sebenarnya lha profil picturenya aja Kenshin Himura. Sederhana sih tampilan blog saya tapi saya merasa nyaman dengan blog ini. Nyamaaaaannnn banget.


Isi blognya biasa saja. Kebanyakan curcol-curcol ringan saja sih. Tapi saya sudah puas kalau sudah menumpahkan tulisan di blog. Lega. Tidak banyak yang memberikan komentar tapi saya tidak begitu peduli dengan komentar. Yang penting saya sudah menulis. Karena tujuan saya membuat blog memang untuk melatih kemampuan menulis dan yups tulisan bisa menjadi terapi diri (yang lagi banyak pikiran... ati-ati bisa stress kalo nggak nulis... pissss...). Sebenarnya pengen punya banyak teman sesama blogger di blogspot ini. Tapi ya itu karena saya nggak bisa fokus merawat blog dan rajin berselancar ke blog teman-teman yang lain. Maklum internetannya cuma mengandalkan fasilitas kantor. Masuk ke warnet kalau memang butuh banget misalnya ada deadline yang harus segera dikirim. Modem....??? ahhh... males saya berurusan dengan modem. Males bayar maksudnya... hehehe... . Pengen banget punya blog yang isinya tulisan-tulisan serius ya seperti opini atau resensi buku. Rencananya sih ini indri. Blognya masih dalam tahap maintenance.. hehehe... gayanya... . Saya berharap dengan rajin menulis di blog semakin terasah kemampuan menulis saya. Pengen tulisan-tulisan saya di blog ada yang melirik dan bisa dibukukan (Ngarep... hehehe...)


Yah... begitulah blog... blog bagi saya sudah menjadi rumah kedua (emang punya rumah pertama...??? qiqiqi...). Hidup tanpa blog bagaikan sup tanpa garam. Nggak ada rasanya... . Hmm... pokoknya nggak nyesel sudah mengenal blog. So ngeblog...??? why not ...???


*Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes "Ngeblog di Mata Perempuan" yang diselenggarakan emak2blogger

Rabu, 15 Februari 2012

Mengais Asa yang Tertunda...

Awalnya saya sama sekali tidak suka menulis. Pelajaran bahasa Indonesiapun bagi saya merupakan pelajaran yang sangat susah. Karena pelajaran satu ini lebih cenderung mengeksplorasi kemampuan menulis siswa. Sedangkan saya membuat satu kalimatpun membutuhkan waktu bermenit-menit. Apalagi kalau diminta untuk menulis puisi atau bahkan sebuah karangan bebas. Jangan tanya saya pasti membutuhkan waktu berjam-jam. Buntu, tidak ada ide. Mending saya disuruh mengerjakan 100 soal Matematika daripada mengarang. Hi3... parah deh pokoknya.


Kemampuan menulis saya yang payah ini berlanjut sampai SMU. Sampai suatu ketika saya dipertemukan dengan muslimah yang membantu saya menunjukkan kebenaran Islam. Ternyata Islam yang selama ini saya pahami salah. Dulu saya mengira Islam itu ya cukup dengan rajin sholat, mengaji, puasa, zakat, dan ritual-ritual ibadah lainnya. Ternyata Islam itu juga harus diterapkan menjadi sebuah sistem dalam kehidupan. Lho kok jadi ngomongin Islam...??? hi3... maksudnya semenjak itulah saya ingin menyebarkan ilmu yang sudah saya dapatkan mengenai Islam melalui tulisan. Dan di lain pihak memang kami dianjurkan mengirim tulisan boleh berupa opini ataupun surat pembaca ke media massa setiap bulannya. Wah mau tidak mau saya harus mulai menulis. Mulai saat ini. Walaupun awalnya sebuah keterpaksaan.


Tema pendidikan sepertinya yang saya tulis waktu itu untuk surat pembaca karena memang momennya pas dengan masa-masa kelulusan siswa. Draft pertama saya serahkan ke senior dan tahukah kawan hasilnya seperti apa...??? tulisan saya penuh coretan bahkan tulisan asli saya banyak yang ketutup coretan-coretan. Hadehhh.... . Segera saya perbaiki draft saya dan segera saya kirimkan ke media lokal karena takut kehilangan momen. Saat itu saya masih menggunakan mesin ketik. Ke rental takut... maklum gaptek akut. Alhamdulillah surat pembaca saya dimuat di koran lokal tepat menjelang kelulusan saya. Yang jelas tidak mendapatkan honor. Namanya juga Surat Pembaca. Tapi setidaknya itu memacu saya untuk belajar menulis.


“Ndri menang... “, Kata teman saya. Alhamdulillah resensi buku “Jangan jadi bebek” karya O. Sholihin yang saya ikutkan lomba menulis resensi di kampus menang. Sebagai imbalannya uang hadiah sebesar Rp 75.000,- pun berpindah ke tangan saya. Uang tersebut langsung saya belikan tiket pulang kampung. Lumayan masih ada sisa. Pikiran saya saat itu mungkin lomba menulis resensi ini hanya segelintir yang ikut berpartisipasi. Jadilah dengan terpaksa juri memilih naskah saya sebagai pemenang karena tidak ada naskah lain yang masuk. Mungkin...


Saya semakin rajin menulis ketika memasuki masa-masa magang. Sekolah Tinggi Kedinasan yang saya ikuti mewajibkan mahasiswanya magang sebelum penempatan kerja. Kebetulan tempat saya magang tidak begitu banyak pekerjaan. Sering seharian saya hanya bengong menonton TV. Daripada bengong terus malah kesambet the invisible mending saya coret-coret menumpahkan pikiran yang ada di otak. Motivasi saya hanya untuk bagaimana supaya opini saya ini tersebar. Biasanya yang saya tulis mengenai bobroknya sistem pemerintahan yang ada. Pokoknya mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah. Keren dong...??? tidak... bahasa yang saya gunakan tentu sangat sederhana. Saya tidak peduli harus menggunakan bahasa yang seperti apa. Lagian saya hanya berbekal sebuah buletin yang saya terima tiap minggu kemudian saya ringkas isinya memakai bahasa sendiri. Tentu saja selalu saya bubuhkan sumber tulisan. Namanya juga hanya belajar sendiri, tidak ada guru atau senior yang mengarahkan seharusnya tulisan saya itu seperti apa. Hanya berbekal pede saja. Kirim saja tulisan saya di surat pembaca koran Sindo. Entah dimuat atau tidak yang penting saya sudah kirim. Selain itu saya juga mengincar sebuah komputer di kantor tempat saya magang yang bisa jaringan intranet. Biasanya ketika para pegawai laki-laki sholat jum’at dan pegawai perempuan istirahat makan, saya minta izin untuk menggunakan komputer itu. Senangnya bukan kepalang. Segera saya ketik cepat-cepat tulisan yang memang sudah saya siapkan sebelumnya dan langsung dikirim ke sebuah forum diskusi. Fffiuhhh... lega kalau tulisan sudah terkirim. Tentu saja tulisan saya yang mengkritik kebijakan pemerintah langsung dicaci maki oleh hampir sebagian besar anggota forum diskusi yang memang semuanya adalah abdi negara. Cuek. Yang penting saya sudah menyebarkan opini yang menurut saya benar.


Ketika saya sudah penempatan dan mulai bekerja, saya berkenalan dengan blog publik yang ada di jaringan intranet (*di kantor belum bisa jaringan internet) namanya Ciblog. Saya tertarik. Mulailah saya belajar membuat blog. Bagaimana membuat tulisan bisa kerlap-kerlip, tulisan bisa jalan-jalan. Blog saya sangat sederhana tampilannya tanpa ada tambahan pernak-pernik lainnya. Sedangkan blog-blog yang lain penampilannya saja sangat menarik. Saya membuat 2 akun blog di Ciblog saat itu. Blog pertama berisi curcol-curcol saja. Pokoknya cerita-cerita ringan saja. Sedangkan blog yang kedua berisi tulisan-tulisan yang mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah. Kekonsistenan saya untuk menulis tulisan yang aktual (*walaupun kontroversial) mengakibatkan saya masuk nominasi blog yang aktual (*aduhhh saya lupa masuk nominasi apa ya... hi3...) versi blog Abunawas (salah satu anggota Ciblog yang tiap tahun mengadakan penjurian blog) walaupun tidak menang. Padahal tulisan saya ecek-ecek dan asal nyeplos saja.


Saya vakum menulis ketika blog publik yang berkeliaran di ranah jaringan intranet itu dicabut peredarannya (Kayak narkoba saja...). Wah banyak tulisan-tulisan saya yang raib. Karena saat itu saya belum memiliki komputer pribadi. Masih menumpang kantor euuyyy... . Benar-benar gairah saya menulis menguap begitu saja. Jaringan internet tidak bisa, intranet tidak ada Ciblog bagaikan makan sop tanpa garam (hambar gituu... ). Biasanya tiap malam saya berpikir apa ya yang mau saya tulis di Ciblog besok. Ada sebenarnya sebuah Forum Diskusi yang dulu sering saya ikuti semasa magang. Tapi saya merasa suasananya sudah berbeda, sudah tidak ramah lagi seperti dulu. Sering tulisan-tulisan saya yang memang mengkritik pemerintah dilock sama adminnya dengan alasan tulisan saya bermuatan politik. Tetapi anehnya banyak tulisan-tulisan yang isinya malah kampanye terhadap partai politik tertentu. Saya marah. Saya sampaikan perlakuan tidak adil yang saya terima. Tetapi adminnya tutup kuping. Tulisan saya masih saja dilock sedangkan mereka bebas berkampanye. Semakin malaslah saya. Mau membuat blog di internet tidak tahu caranya. Ya sudah selama sekitar dua tahun saya tidak berhasil membuat sebuah tulisan, walaupun hanya sekedar cerita ringan berisi curcol. Parah...


Entah bagaimana awalnya, akhirnya saya berkenalan dengan “Multiply”. Sebuah blog yang mencakup juga jejaring sosial. Karena tertarik dengan buku baru yang dipromosikan oleh salah satu member multiply, buku “Oyako No Hanashi” karya mbak Aan Wulandari, saya berkenalan dengan pemilik akun “diansya” ini. Beliau ramah dan tak segan-segan menjawab semua pertanyaan saya. Berkeliaranlah saya menjelajahi isi blog mbak Aan. Isinya seputar celoteh kedua anaknya, resensi buku yang entah sudah keberapa kali dimuat di media, tulisan-tulisan yang dimuat di media, dan buku-buku karyanya. Subhanallah... produktif banget. Ingin sekali suatu saat saya bisa menulis buku. Mulailah saya tertatih-tatih menuliskan kata demi kata di blog. Hanya berisi curcol-curcol saja sih sebenarnya. Tapi itu sudah cukup membangkitkan semangat menulis saya. Walaupun awalnya berat, tapi saya mencoba menjalaninya. Karena memang saya ingin belajar menulis. Saya ingin seperti dulu yang rajin menulis opini-opini singkat seputar kebijakan pemerintah. Tapi sebagai langkah awal saya menulis pengalaman sehari-hari dulu. Belajar menuliskan apa saja yang sedang berkeliaran di otak. Mengikuti lomba-lomba kepenulisan yang ternyata banyak sekali juga saya gunakan sebagai ajang pembelajaran. Tidak peduli dengan hasil penjurian yang mengakibatkan naskah saya tidak lolos. Yang penting menulis... menulis... dan menulis... apapun itu. Dan saya yakin impian saya menjadi penulis suatu saat nanti akan terwujud asalkan saya berusaha untuk mewujudkannya. Sebuah kalimat yang menginspirasi saya adalah kata-kata dari Arai (-Sang Pemimpi-) “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu... “. Saya mulai membuka mata dan berani bermimpi. Ganbatte...!!!!

Buku : Sahabat Sejatiku...

Pertama kali jatuh cinta sama buku ketika suatu hari bapak membawa segepok buku cerita dari perpustakaan kantornya. Kata beliau buku-buku tersebut merupakan buku-buku bekas. Perpustakaan kantor akan diganti dengan buku-buku baru. Bukunya macam-macam. Kebanyakan cerita dongeng yang selama ini hanya bisa saya nikmati di TV. Cinderela, Putri Salju dan tujuh kurcaci, Putri yang besarnya cuma sejempol, Pangeran Kodok, Abunawas, Jack dan pohon kacang, dan lain-lain. Ada juga beberapa buku yang berisi kisah-kisah penuh hikmah. Dalam waktu relatif singkat saya sudah membaca semua buku yang dibawakan bapak. Tetapi saya tidak pernah bosan. Selalu mengulang buku-buku tersebut tiap kali tidak ada lagi buku yang bisa dibaca. Akibatnya saya hafal jalan cerita dari dongeng-dongeng tersebut. Karena Bapak juga tidak sanggup membelikan buku buat saya, akhirnya beliau memutuskan untuk berlangganan majalah anak-anak. “Mentari Putera Harapan” itu majalah anak-anak pertama saya. Saya lupa periode terbitnya. Yang jelas saya selalu tidak sabar tiap kali majalah tersebut terbit. Bisa hanya menghabiskan waktu sehari untuk membacanya. Majalahnya tipis. Saya tidak pernah dibelikan buku kecuali buku-buku pelajaran. Masih beruntung bapak mau membelikan saya majalah yang belum tentu bisa dimiliki oleh anak-anak seusia saya waktu itu.


Ketika masuk SMP saya tidak berlangganan majalah anak-anak lagi. Karena pembahasannya sudah berbeda. Saat itu saya tidak tahu buku apa yang sedang best seller. Benar-benar buta tentang perbukuan. Karena memang tidak ada rupiah untuk bisa membeli buku. Akhirnya pilihan jatuh ke majalah lagi. Ya karena majalah harganya lebih terjangkau. Tapi saat itu saya memilih majalah berbahasa Inggris untuk remaja “Genius”. Maklum baru semangat-semangatnya belajar bahasa Inggris. Sedangkan majalah-majalah remaja yang saat itu sedang tren cukup meminjam saja dari teman. Toh juga tidak ketinggalan berita terkini tentang para remaja.


Suatu kali saya mengerjakan tugas kelompok di rumah salah seorang teman. Dan saya terhenti di sebuah ruangan yang penuh berisi buku. Teman saya menjelaskan bahwa ruangan tersebut merupakan ruang perpustakaan bapaknya. Sebagian besar buku-buku agama karena bapak teman saya memang seorang guru Agama di sebuah SMU negeri di kota kami. Saya iri kenapa bapak saya tidak mempunyai perpustakaan. Setiba di rumah sayapun mempertanyakan hal tersebut. Bapak saya tidak menjawab. Beliau hanya diam. Dan tanpa beliau menjawabpun sebenarnya saya sudah tahu jawaban yang akan terlontar. Saya geledah seluruh isi rumah. Saya menemukan beberapa buku cara bertanam dan berternak, pengobatan madura, resep masakan, primbon, serta bibel. Kata bapak bibel ini sekedar untuk membandingkan. Dan terbukti bahwa Al-Quranlah yang paling sempurna. Buku-buku yang bapak miliki seputar pertanian dan peternakan karena beliau memang sedang merintis usaha tersebut. Saya tidak bisa memaksa bapak untuk bisa membelikan saya buku-buku. Bisa sekolah dan berlangganan majalah sudah cukup buat saya. Saya berjanji dalam hati tidak akan menuntut bapak dan membuka pembicaraan tentang buku lagi. Tetapi saya meyakinkan dalam hati bahwa suatu saat nanti saya harus mempunyai sebuah perpustakaan pribadi dan taman bacaan. Saya simpan erat-erat impian saya tersebut.


Setiap Minggu sore jam setengah lima di RCTI ada film favorit saya “Sahabat Pilihan”. Berkisah tentang dua orang sahabat yang mengelola sebuah perpustakaan untuk anak-anak yang ada di sekitarnya. Keinginan saya untuk memiliki sebuah perpustakaan semakin hebat. Tetapi karena terbentur dengan persiapan Ebtanas, keinginan untuk mengumpulkan buku ditunda dulu. Lebih baik mengumpulkan buku-buku berisi kumpulan soal-soal Ebtanas daripada buku-buku yang tidak ada hubungannya dengan akademis, begitu pikir saya waktu itu. Saya merasa masa-masa SMP merupakan masa-masa paling kuper dengan buku. Ditambah lagi buku-buku perpustakaan yang ada di sekolah tidak update. Paling suka waktu itu buku-buku biografi dan cerita detektif. Komikpun saya tidak berminat membacanya. Alasannya simpel bingung cara membacanya. Berkebalikan dengan teman saya yang sangat getol membaca komik. Bahkan tak jarang mencuri-curi waktu belajar di kelas.


Bersentuhan lagi dengan dunia perbukuan ketika memasuki SMU. Karena penampilan saya yang berkerudung ditambah lagi dengan tampang super kalem (he3...) ternyata menarik minat mbak-mbak yang berkecimpung di keputrian sekolah. Mereka menawariku novel-novel remaja islami. Mereka juga menjelaskan bahwa ini adalah salah satu program di keputrian yaitu perpustakaan keliling. Saya seperti orang kampungan yang baru melek buku. Baru tahu ternyata ada buku-buku remaja sebagus itu. Saya termasuk murid baru yang rajin meminjam buku. Berkenalanlah saya dengan buku-buku seperti Annida, Aisyah Putri, Faris dan Haji Obet, dan novel-novel remaja islami lainnya. Tetap saja saya hanya membaca dan tidak punya koleksi buku di rumah. Namanya juga buku pinjaman. Padahal harga buku saat saya masih SMU tergolong murah bila dibandingkan sekarang. Sekarang harga buku sebagian besar di atas tiga puluh ribu. Buku novel Annida yang nekad saya beli saat itu sebenarnya harganya cuma dua belas ribu. Tapi nilai uang saat SMU dengan sekarang tentu berbeda. Dua belas ribu waktu itu tergolong mahal apalagi untuk anak ukuran SMU seperti saya. Harus menabung berminggu-minggu untuk bisa menuruti keinginan membeli buku. Bahkan sempat terbersit rasa sesal karena telah membeli buku yang bukan buku pelajaran. Menyesal karena merasa uang tersebut melayang sia-sia. Rekor buku saya selama tiga tahun semasa SMU hanya dua yaitu novel Annida dan buku komedi Faris dan Haji Obet. Selebihnya saya tenggelam dengan buku-buku akademik. Sebenarnya ingin sekali melirik untuk membeli buku-buku yang saat itu lagi tren. Tapi cepat saya berpaling. Ada yang jauh lebih penting ketimbang buku-buku itu yaitu latihan soal-soal SPMB. Terlebih ketika kakak kelas yang rajin meminjami saya buku-buku sudah lulus. Semakin jauhlah saya dari buku. Bahkan buku Chicken Soup-pun saya tidak tahu. Benar-benar kuper pokoknya. Paling buku yang saya tahu “100 orang paling berpengaruh di dunia”.


Memasuki bangku kuliah saya mulai akrab dengan buku. Apalagi teman sekamar saya doyan membaca buku tapi lewat persewaan buku. Mulailah saya berkenalan dengan buku-bukunya Fira Basuki, Supernova-nya Dee, buku-buku chicklit dan teenlit, istilah-istilah trilogi, tetralogi-pun mulai akrab di telinga. Dan sejak saat itu saya menyisihkan beberapa puluh ribu untuk membeli sebuah buku dalam satu bulan. Tidak lebih dan tidak kurang, satu buku dalam satu bulan. Maklum masih meminta jatah uang bulanan dari orang tua. Walaupun saya juga mencari sambilan mengajar. Lumayan walaupun satu buku satu bulan, tetapi bisa menambah koleksi buku saya yang memang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan taktik agar saya bisa membaca buku padahal sedang krisis, saya akan berlama-lama di toko buku tersebut. Membaca sebuah buku yang menarik. Lumayan terkadang dapat setengah isi buku. Besoknya dilanjutkan lagi. Hemat bukan...??? tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.


Selepas lulus kuliah selama satu tahun, ada kewajiban bagi kami untuk magang. Saya mendapatkan tempat magang yang strategis. Strategis maksudnya dekat dengan tempat-tempat yang sering mengadakan pameran buku. Rajin sekali saya menyambangi Pameran. Entah itu pameran bukunya Kompas-Gramedia, Islamic Bookfair, Pesta Buku Jakarta, atau pameran-pameran yang sering diadakan Dinas Pendidikan Nasional. Bahkan untuk Islamic Bookfair hampir setiap hari saya kunjungi selepas pulang magang. Karena memang lokasinya yang sangat dekat.


Hingga suatu kali sekitar tahun 2007 saya berkenalan dengan buku Laskar Pelangi. Saya mengetahui buku itu dari sebuah forum diskusi yang memang membahas tentang buku. Penasaran. Dan menurut info yang saya peroleh harga buku ini mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk ke Pasar Kwitang. Tidak sulit menemukan buku ini. Karena memang saat itu Laskar Pelangi merupakan buku yang fenomenal. Dengan harga separuhnya pula dari harga yang dibandrol di toko buku (Maaf Andrea Hirata). Tanpa pikir panjang saya beli buku itu. Senang karena dengan harga yang murah bisa mendapatkan buku yang sangat memotivasi.


Tetapi sebenarnya buku yang paling menginspirasi saya bukanlah buku Laskar Pelangi. Melainkan Sang Pemimpi. Buku Kedua Andrea Hirata. Di situ diceritakan mengenai mimpi-mimpi dua orang sahabat yang sepertinya mustahil untuk diwujudkan. Dua orang dari kalangan bawah bermimpi untuk bisa kuliah di Paris. Tetapi ternyata dengan sebuah tekad dan motivasi dari guru SMA mereka bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu. Sebuah kalimat yang paling saya sukai dari Arai “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Dari buku inilah saya mulai berani untuk bermimpi yang lebih besar. Dan mulai merintis jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya itu. Dan untuk buku Sang Pemimpi ini saya membeli asli dari toko buku.


Sekarang jumlah buku yang saya miliki sudah mencapai angka ratusan. Kamar kos saya yang sempit ini sudah tidak muat menampung buku-buku saya. Sebagian kecil sudah saya masukkan ke dalam kardus karena rak-rak buku yang ada sudah tidak muat lagi. Dua rak buku susun tiga plus 1 rak memanjang tempat komputer yang bagian samping dan bawah rak bisa dijadikan sebagai tempat buku. Ditambah lagi kardus-kadus yang sudah saya sulap menjadi tempat buku. Mumpung saya masih diberi kesempatan bisa membeli buku-buku. Karena saya memang mempunyai keinginan nanti kalau sudah berkeluarga mempunyai taman bacaan di rumah untuk tetangga sekitar. Buku yang saya miliki pun beragam. Buku anak-anak, parenting, religi, novel-novel yang mendidik (novel-novel picisan saya tidak suka), sampai majalah-majalah saya koleksi. Terbayang betapa sempitnya kamar kos saya. Bahkan malah teman saya yang bingung nanti bagaimana kalau saya mau pindah kos. Memang itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa saya masih bertahan di kamar kos ini. Malas untuk pindahan.


Yang pasti saya akan tetap menambah koleksi buku-buku saya. Walaupun ada salah seorang teman yang mengatakan ” Saya kalau buku-buku seperti itu sayang kalau harus membeli. Mending baca di perpustakaan “, Katanya sambil menunjuk buku Laskar Pelangi yang saat itu sedang saya baca. Saya tidak menanggapinya. Karena saya beranggapan semua buku itu bermanfaat. Walaupun buku itu berisi pengalaman pribadi. Ya buku-buku semacam itu sekarang sedang marak. Buku-buku antologi yang berdasarkan kisah nyata. Bagi saya itu buku yang sangat menarik. Tidak mudah untuk menuangkan kisah pribadi dalam bentuk tulisan. Dan yang pasti kisah-kisah tersebut biasanya cukup menginspirasi dan bahasa yang digunakan mudah dicerna.


Buku, buku, dan buku. Sesuatu yang sangat menarik bila dibandingkan dengan apapun. Bahkan makanan selezat apapun.

Kamis, 09 Februari 2012

Amunisi untuk meng-counter V-Day...

V-day yang katanya hari kasih sayang tinggal beberapa hari lagi. Ini dia amunisi-amunisi yang kami siapkan untuk meng-counter V-day. He3... hasil contekan sih. Alhamdulillah teman-teman banyak yang berbagi materi-materi terkait V-day di dunia maya ini. syukron... ^_^

1. Power Point-nya ustadz Felix Siauw
Alhamdulillah... lumayan tinggal belajar... he3...















2. Bukan buletin sih... semacam selebaran lah... belum sanggup kalau harus bikin buletin. Tulisannya...??? he3... dapet contekan dari buletin Islamuda. Ada beberapa paragraf yang di-cut biar lebih ringkas. Lumayanlah buat dibagi-bagi ke para remaja.















3. Lagi bikin mading juga. Tapi belum selesai. Semoga bisa selesai tepat waktu. Amin...

Jumat, 27 Januari 2012

Nostalgia Tugas Akhir... ^_^

Gara-gara di Muslim Entrepreneur Forum 2012 kemarin backsoundnya pakai musiknya film Transformer, saya mendadak kangen sama program Tugas Akhir yang saya buat setahun yang lalu. Lho kok...??? apa hubungannya Transformer sama Tugas Akhir...??? Jelas ada hubungannya. Soalnya Tugas Akhir saya juga menggunakan musiknya Transformer sebagai backsound. Sedikit nostalgia ya...

Sebagai mahasiswa Manajemen Informatika saya mempunyai keinginan untuk membuat Tugas Akhir yang Ideologis. Tanpa tahu harus seperti apa nanti Tugas Akhirnya, memilih program atau sistem... trus tentang apa... entahlah... yang penting Tugas Akhir saya harus Ideologis. Hanya itu yang saya camkan dalam diri saya. Memasuki pertengahan semester lima ada tawaran menyusun Tugas Akhir. Padahal biasanya Tugas Akhir baru dikerjakan ketika memasuki semester enam. Saya dan beberapa orang teman mengambil kesempatan itu. Saya sendiri masih tetap belum memutuskan Tugas Akhir yang harus saya susun itu seperti apa. Yang jelas saya tidak akan memilih sistem. Karena saya tidak terbayang sama sekali kalau mengambil sistem mau bikin Tugas Akhir yang seperti apa. Kebanyakan mahasiswa menga
mbil pemrograman database. Sedangkan saya akhirnya memilih pemrograman animasi interaktif. Tugas Akhir pemrograman Animasi tidak sebanyak dan serumit database. Psssttt.... ada bocoran mahasiswa yang mengambil pemrograman selain database dapet nilai plus... he3... .

Eittt... jangan membayangkan program animasi yang saya buat itu seperti membuat film kartun atau yang ada di CD anak-anak itu. Qiqiqi... animasi yang saya buat biasa banget. Cuma gambar-gambar yang diedit-edit sedikit trus diputar-putar... hilang... dimunculin lagi gambarnya... dikecilin... digedein... paling hurufnya dibuat kerlap-kerlip... sudah... begitu doang. Gampang kan...??? ya tapi saya kan belum pernah belajar animasi sebelumnya. Hanya membuat animasi yang begitu sederhana saja harus bekerja keras. Mencari bantuan orang-orang yang sekiranya mampu dan mau mengajari kami (saya dan Dahlia). Untung Dahlia bekerja di perpustakaan kampus, jadi dia mempunyai banyak k
enalan asisten lab kampus. Sok pedekate... mengemis-ngemis minta bantuan ke mereka... pokoknya muka tembok deh... . Alhamdulillah akhirnya ada juga yang bersedia mengajari kami Macromedia Flash MX.

Setelah melalui tahap perenungan yang cukup lama akhirnya saya memutuskan untuk membuat animasi tentang ilmuwan-ilmuwan Islam. Awalnya ingin membuat tentang sejarah Kekhilafahan Islam. Tapi terlalu banyak membutuhkan data dan sepertinya tidak bakalan selesai karena memang waktunya mepet. Saya bukan mahasiswa murni. Pagi sampai sore status saya sebagai wanita kurir. Pulang kuliah jam 9.30 malam. Jadi saya baru bisa mengerjakan TA sekitar jam 10-an. Untungnya lagi saya sekamar berdua dengan Dahlia. Jadi kalau yang satunya mengerjakan TA nggak mungkin yang satunya tidur pules. Mau nggak mau harus ikut mengerjakan. Kalau ada yang ketiduran pinginnya sih dibangunin tapi seringnya sih ikut tidur juga... he3... . Ya begitulah selama sekitar 2 bulan tidur sepertinya tidak nyenyak. Lha tidur sehari cuma beberapa jam.

Alhamdulillah kerja keras kami selama 2 bulan terbayar. Sangat memuaskan. Kami sama sekali tidak menyangka bakalan mendapat grade A. Ya... kami... saya da
n Dahlia. Padahal animasi yang kami buat sangat sederhana. Tergantung dosen pengujinya juga sih. Alhamdulillah dosen penguji kami bukan dosen killer. Yah... semuanya pertolongan Allah. Keinginan saya untuk membuat TA yang ideologis akhirnya terwujud.

Ini ada beberapa gambar TA saya...









Halaman Pembukanya...













Menu Utama...















Bidang Matematika...









Sederhana banget kan ...??? he3...